WARTAKENDALI.com | Kota Batu – Dalam menyikapi fenomena Sound horeg yaitu salah satu penggunaan sistem audio berukuran besar yang menghasilkan suara sangat keras dan menggetarkan, seringkali dalam acara informal seperti hajatan, pawai, atau karnaval. Istilah “horeg” sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti bergerak atau bergetar.
Sound horeg memiliki sistem audio berukuran besar dengan menggunakan truk atau kendaraan lain yang dimodifikasi untuk membawa speaker raksasa, dan peralatan audio berdaya tinggi. Suara keras dan menggetarkan berpotensi mengganggu lingkungan sekitar, serta dapat dirasakan getarannya.
Disetiap rangkaian kegiatan sound horeg seringkali menampilkan musik remix, dangdut koplo, atau musik dengan efek echo dan delay yang kuat.
Biasanya muncul dalam acara-acara seperti hajatan, pawai, karnaval, atau acara komunitas lainnya. Meskipun demikian, sound horeg tetap menjadi fenomena budaya populer, terutama di Jawa Timur, yang terus berkembang dan menjadi bagian dari acara-acara lokal.

Kepala Bidang Pencegahan, Pengendalian Penyakit dan Penanganan Bencana Dinas Kesehatan Kota Batu, dr. Susana Indahwati (KMK), CPRM., menjelaskan bahwa Suara “horeg” sering diasosiasikan dengan suara musik atau audio yang sangat kencang, terutama dengan bass yang menggelegar, seperti yang biasa ditemui di konser, festival, atau acara hiburan lainnya.
“Memang, meskipun rangkaian acara sound horeg tersebut bisa sangat menghibur, akan tetapi paparan suara “horeg” yang berlebihan dan dalam jangka panjang dapat memiliki berbagai efek negatif pada kesehatan, terutama pada sistem pendengaran dan kesehatan secara keseluruhan,” ungkapnya pada awak media pada minggu (27/7/2025).
Lebih lanjut dr. Susana Indahwati (KMK), CPRM., memaparkan ada beberapa efek kesehatan yang mungkin timbul akibat paparan suara “horeg”.
” Ya, mungkin ini bisa terjadi dari beberapa efek paparan suara “horeg” yang berlebihan.
1. Gangguan Pendengaran
Ini adalah efek yang paling langsung dan umum.
* Telinga Berdenging (Tinnitus): Seringkali, setelah terpapar suara keras, Anda mungkin merasakan telinga berdenging atau mendesis. Ini bisa bersifat sementara, tetapi pada paparan berulang, tinnitus bisa menjadi permanen dan sangat mengganggu.
* Kehilangan Pendengaran Sementara (Temporary Threshold Shift – TTS): Pendengaran bisa terasa meredup atau kurang peka setelah terpapar suara keras. Biasanya akan pulih dalam beberapa jam atau hari, namun ini adalah tanda bahwa telinga Anda sedang stres.
* Kehilangan Pendengaran Permanen (Permanent Threshold Shift – PTS): Paparan suara keras secara berulang atau sangat intens dalam satu waktu dapat merusak sel-sel rambut halus di koklea (rumah siput) telinga bagian dalam secara permanen. Kerusakan ini tidak dapat diperbaiki dan mengakibatkan kehilangan pendengaran sensorineural yang bersifat permanen, di mana kemampuan mendengar frekuensi tertentu (terutama frekuensi tinggi) akan menurun.
* Hiperakusis: Kondisi di mana seseorang menjadi sangat sensitif terhadap suara, bahkan suara normal pun terasa sangat keras atau menyakitkan.
2. Efek pada Jantung dan Pembuluh Darah
* Peningkatan Denyut Jantung dan Tekanan Darah: Suara keras dapat memicu respons stres pada tubuh, yang menyebabkan peningkatan adrenalin, detak jantung, dan tekanan darah.
* Risiko Penyakit Jantung Jangka Panjang: Paparan kebisingan kronis telah dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung koroner dan stroke, meskipun mekanisme pastinya masih diteliti.
3. Gangguan Tidur
* Kesulitan Tidur (Insomnia): Terpapar suara keras, terutama di malam hari, dapat mengganggu siklus tidur dan menyebabkan kesulitan untuk tertidur atau mempertahankan tidur.
* Kualitas Tidur Menurun: Bahkan jika Anda bisa tertidur, suara keras dapat menyebabkan tidur yang dangkal dan kurang restoratif.
4. Masalah Psikologis dan Emosional
* Stres dan Kecemasan: Kebisingan yang berlebihan dapat meningkatkan tingkat stres dan kecemasan, bahkan memicu serangan panik pada individu yang rentan.
* Iritabilitas: Paparan suara yang mengganggu dapat membuat seseorang mudah marah atau jengkel.
* Penurunan Konsentrasi dan Produktivitas: Suara keras dapat mengganggu kemampuan untuk fokus dan berkonsentrasi pada tugas, baik di tempat kerja maupun saat belajar.
5. Efek pada Kesehatan Umum Lainnya
* Sakit Kepala: Beberapa orang mengalami sakit kepala atau migrain setelah terpapar suara keras.
* Gangguan Pencernaan: Dalam beberapa kasus, stres akibat kebisingan dapat mempengaruhi sistem pencernaan,” paparnya.
Masih Kepala Bidang Pencegahan, Pengendalian Penyakit dan Penanganan Bencana Dinas Kesehatan Kota Batu, dr. Susana Indahwati (KMK), CPRM., menambahkan bagaimana cara mengurangi risikonya dampak dari paparan suara sound “horeg” tersebut, ya, tentunya banyak sekali alternanifnya.
“Ya, tentunya kita bisa melakukan banyak hal agar kita bisa melindungi diri dari efek paparan suara soun horeg seperti:
* Gunakan Pelindung Telinga: Earplug atau earmuff sangat efektif untuk mengurangi intensitas suara yang masuk ke telinga.
* Batasi Waktu Paparan: Hindari berada di area dengan suara sangat keras terlalu lama. Ambil jeda secara berkala.
* Jaga Jarak: Berdirilah agak jauh dari sumber suara (speaker).
* Perhatikan Batas Volume: Jika Anda mendengarkan musik pribadi, gunakan volume yang moderat. Tingkat volume suara yang aman untuk telinga manusia adalah di bawah 85 desibel (dB) untuk durasi maksimal delapan jam. Apa pun di atas 85 dB untuk jangka waktu yang lama dapat menyebabkan kerusakan sementara pada jaringan telinga yang sensitif atau bahkan gangguan pendengaran permanen,” tandas dr. Susana. (red).







